YAKUSA

Yakin Usaha Sampai

FoLLoweR

serba-serbi

Senin, 26 Mei 2008

Dilema Kehidupan Anak Jalanan (pengamen) dan Penjual Koran di Perempatan ITN Malang


Dunia dengan segala realita yang ada tak mungkin tetap, selalu saja ada perubahan sosial yang terjadi secara lamban maupun cepat. Perubahan social mengakibatkan berbagai konflik, anomali sosial, atau kesejahteraan. Semua akan berdampak secara multidimensional di segala seluk kehidupan. Masalah kehidupan dapat dilihat melalui segala bidang seperti ekonomi, psikologis, social, budaya, bahkan kriminal. Salah satu dari sekian banyak masalah, ada satu masalah yang klise dimana hingga saat ini pemerintah atau negara manapun di dunia ini belum dapat menyelesaikan masalah ini, terutama di Indonesia. Anak jalanan. Anak jalanan merupakan masalah klise yang terjadi di negara ini. Bagi masyarakat,anak jalanan lebih sering mengalami dekadensi moral yang diakibatkan oleh pergaulan dan pengaruh lingkungan yang tak biasa diajarkan tata krama seperti yang diajarkan pada anak-anak di sekolah pada umumnya. Padahal tak semua anak jalanan seperti itu. Bahkan, tak sedikit juga dari kalangan akademisi yang mengalami dekadensi moral jauh lebih parah disbanding anak jalanan. Perbedaan hanya terselubung dan transparan saja. Begitu pelik masalah yang dihadapi oleh bangsa ini. Tapi mengapa pemerintah kurang memperhatikan masalah yang menyangkut pada kesejahteraan rakyat, terutama generasi penerus bangsa yang merupakan agent of change atau agen perubahan? Apakah masalah anak jalanan ini terlalu sepele bagi sebagian anggota DPR dan MPR sehingga tidak terlalu penting untuk diselesaikan?

Di sepanjang jalan di daerah manapun pasti akan ditemui anak jalanan yang bergerombol, berebutan rejeki, mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan sehari-sehari mereka yang semakin mendesak. Harga sembako dan pendidikanpun semakin mahal, sehingga keluarga para anak jalanan tak mampu membiayai pendidikan mereka. Akhirnya, generasi penerus bangsa itupun terpaksa berhenti sekolah dan rentan akan tindak criminal. Faktor ekonomi dan pendidikan merupakan alasan utama yang menjadikan mereka sebagai anak jalanan. Mengenyam pendidikan merupakan makanan yang tak sanggup mereka konsumsi lagi. Yang mereka pikirkan hanyalah memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka guna melangsungkan kehidupan. Mengenyangkan perut lebih penting daripada mengenyangkan otak mereka dengan teori-teori yang belum tentu teraplikasikan dalam hidup mereka, mungkin itulah pikiran anak jalanan ketika mereka memutuskan terjun dalam dunia jalanan.

Oleh karena itu, kami para penyusun observasi ini ditugaskan oleh panitia PRA-LKP2M untuk melaksanakan observasi mengenai anak jalanan dengan spesifikasi pengamen dan penjual Koran yang berada di perempatan ITN. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak penyusun, sehingga akhirnya observasi inipun Bagaimana kehidupan anak jalanan (pengamen) dan penjual koran sehari-hari di perempatan ITN? Bagaimana pandangan para pengguna jalan raya dengan adanya anak jalanan (pengamen) dan penjual Koran di perempatan ITN? Apakah para pengguna jalan merasa terganggu dengan adanya anak jalanan (pengamen) dan penjual Koran di perempatan ITN ? Apakah selamanya mereka akan hidup di jalanan tanpa memikirkan masa depannya kelak? Bagaimana Negara yang besar dan kaya seprti Indonesia tidak dapat menyelesaikan masalah seperti ini? Siapakah yang harus disalahkan? Sistem ataukah manusianya?


Pada hari Selasa tanggal 25 Maret 2008, kelompok Duta Masyarakat yang beranggotakan Indah, Endahing, dan Musta’in telah melakukan observasi kecil terhadap anak jalanan (pengamen) dan penjual koran di perempatan ITN.
Tercatat ada kurang lebih sepuluh pengamen yang terdiri dari anak kecil, remaja, bahkan orang dewasa yang berasal dari kampung yang sama yaitu daerah Dinoyo. Anak kecil berumur antara 10-12 tahun, remaja berumur antara 16-18 tahun, dan orang dewasa berumur antara 21-40 tahun. Dominan para pengamen berjenis kelamin pria, sedangkan wanita hanya ada 2 orang yaitu anak kecil berumur kurang lebih 11 tahun, dan orang dewasa berumur kurang lebih 40 tahun.

Saat Indah dan Endahing melakukan wawancara, beberapa pertanyaan dilontarkan begitu saja tanpa direncanakan terlebih dahulu, namun tidak menyimpang dari tujuan utama observasi, dengan maksud agar anak jalanan tidak merasa canggung ketika memberikan keterangan atau jawaban yang sebenarnya.
Bambang berusia 16 tahun, salah satu anggota anak jalanan yang turut mengamen di perempatan ITN mengaku bahwa dia tidak sekolah lagi, dan kini berprofesi sebagai seorang pengamen bersama teman-temannya berasal dari kampung yang sama. Dia memutuskan menjadi seorang pengamen sejak tahun 2005 atas kemauan sendiri. Namun, menurut Endahing, kemungkinan tidak hanya kemauan sendiri melainkan juga diajak oleh teman sepermainan di kampungnya, dan juga faktor ekonomi yang semakin mendesak untuk terus melangsungkan kehidupan mereka. Selama ini, Bambang menikmati profesinya sebagai seorang anak jalanan, walaupun terkadang terbesit keinginan untuk berubah menjadi lebih baik dengan berganti profesi yang layak. Namun, sampai saat ini belum juga ada pihak yang mau menerimanya bekerja dengan alasan skill kurang mendukung. Dia juga masih ingin sekolah seperti anak-anak lain, namun apalah daya keluarganya tidak mampu membiayai sekolah Bambang lagi, sehingga membuat Bambang sekarang membantu perekonomian keluarga dengan jalan menjadi seorang pengamen.

Alek, seorang remaja yang beranjak dewasa berusia 17 tahun, juga mengalami nasib sama seperti Bambang. Tetapi, menurut keterangan dirinya dia masih sekolah kelas 3 di SMP Ma’arif. Entah keterangannya benar atau tidak hanya Allah dan dia yang tahu. Alek menjadi seorang pengamen sejak kecil. Alek memutuskan menjadi seorang pengamen hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Dia mengaku bahwa uang hasil mengamen yang didapatkan selain digunakan untuk makan, juga untuk membeli rokok. Ketika Endahing memberi pilihan, lebih memilih makanan atau rokok, mereka menjawab dengan kompak menjawab rokok menjadi pilihannya. Endahing berpikir, apakah mengamen hanya untuk merokok? Lalu bagaimana dengan kebutuhan pokok mereka sehari-hari, bahkan keluarga yang mereka bantu?

Agung, bocah remaja berusia 18 tahun, diantara kelompok pengamen dia merupakan salah satu yang lebih dewasa dibanding Bambang dan Alek. Cara penyampaian jawaban mencerminkan dia termasuk pengamen yang sopan, bahkan terlihat masih tersisik dibanding yang lain. Agung menjadi seorang anak jalanan sejak kecil, dengan alasan klise, karena faktor ekonomi. Kebutuhan sehari-hari yang terus menuntut untuk dipenuhi, maka akhirnya Agung terjun ke dunia anak jalanan. Dia tidak seklah, sama seprti Bambang. Menjadi anak jalanan bukanlah pilihannya, namun keadaan menuntut untuk menjadikan dirinya sebagai profesi yang dianggap negatif bagi beberapa kalangan masyarakat.

Bambang, Alek, dan Agung beserta anggota kelompoknya yang lain “mangkal” di perempatan ITN sejak pagi hingga malam. Mereka berangkat dan pulang bersama, karena berasal dari kampung yang sama. Pendapatan mengamen mereka tak menentu, tergantung hari dan waktu. Pendapatan mereka antara Rp.5000,00 hingga Rp.20.000 per hari. Menurut Agung, mereka mendapat uang lebih banyak pada hari Sabtu dan Minggu sore. Mereka tak hanya mendapatkan uang, tetapi juga ada yang memberi mereka rokok dan permen. Bagi Bambang, Alek, dan Agung ketika diberi rokok, mereka menerimanya, lain lagi dengan si kecil, dia menolak dengan berkata ,”Mpun, Pak! Mboten usah!”. Ternyata si kecil lebih memilih uang daripada rokok. Bagi pengamen kecil menggunakan alat ecrek-ecrek bila mengamen, sedangkan bagi pengamen remaja menggunakan gitar kecil atau biasa disebut dengan kompreng. Agung mengaku bahwa gitar kecil itu didapatkan dari Bambang membelinya dengan harga Rp.40.000,00. Uang untuk membeli gitar kecil itu berasal dari jerih payah mereka. Banyak suka dan duka yang mereka alami selama menjadi seorang anak jalanan. Sukanya, karena mereka selain bisa mencari uang sendiri, mereka bisa mengenal pengamen dari daerah lain. Dukanya, terkadang mereka harus berurusan dengan pihak berwajib, siapa lagi kalau bukan polisi dan pamong praja yang bertugas untuk menertibkan kawasan umum dari anak jalanan. Mereka tidak mengetahui kapan pamong praja datang dan siap untuk menjaring siapapun yang merusak pemandangan kawasan yang ditertibkan tersebut. Ketika pamong praja datang, mereka berlari untuk bersembunyi. Apabila pamong praja atau polisi terus mengitari daerah mereka “mangkal”, maka para pengamen memutuskan pulang, tetapi sebaliknya, mereka kembali “mangkal” dean melanjutkan untuk mengamen. Kejadian seperti itu telah menjadi makanan sehari-hari bagi para pengamen di perempatan ITN. Tak jarang mereka tidak beruntung, saat pamong praja melakukan penertiban, ada juga pengamen yang tertangkap. Menurut keterangan Alek dan Agung, ketika tertangkap dan dibawa ke kantor, tak pelak pukulan para pihak berwajib menghujani tubuh mungil mereka yang bukan merupakan lawan yang imbang. Endahing berpikir, apakah itu cerminan dunia hukum di negara kita? Apakah dengan memukul anak jalanan dapat menyelesaikan masalah? Apakah dengan pukulan dapat menjerakan para pengamen? Ternyata tidak, ketika mereka dibebaskan dengan tebusan yang tak murah menurut Agung antara Rp.300.000,00-Rp.500.000,00 oleh seseorang mungkin tetangga mereka atau “kepala jaringan anak jalanan”, mereka tetap mengamen seperti biasanya. Beberapa waktu lalu disiarkan di salah satu program berita televisi swasta, episode saat itu membahas tentang jaringan anak jalanan yang dijadikan sebagai copet dimana itu merupakan profesi lain selain menjadi pengamen. Jadi, anak jalanan selain mengamen, ada oknum menawari pekerjaan lain pada anak jalanan. Oknum tersebut terus mempengaruhi si anak untuk bergabung dalam jaringan anak untuk mencopet. Sebagian besar, anak jalanan terpengaruh dengan bujuk rayu, dan akhirnya bergabunglah mereka dalam suatu wadah yang telah terorganisir yaitu pencopetan. Dominan alasan anak jalanan menerima tawaran oknum tersebut, selain karena desakan kebutuhan semakin bertambah, tetapi juga bergabung dengan organisasi tersebut hidup mereka terjamin, segala kebutuhan hidup mereka dipenuhi, apabila tertangkap saat melakukan operasi maka bos mereka akan menebus hingga mereka bebas kembali. Sebagai awal untuk menjadi seorang pencopet handal ialah seminggu sebelumnya anak jalanan tersebut diajari cara mencopet yaitu mengambil kuning telur dalam minyak atau air. Jika sudah mampu, maka mereka akan dilepas untuk praktek langsung. Sasaran meeka rata-rata para ibu dan anak muda yang lengah menjaga barang berharga mereka. Barang berharga yang biasa diambil kebanyakan telepon genggam, dompet atau perhiasan lain. Karena, acara tersebut salah satu penulis sempat curiga, apakah anak-anak jalanan yang berada di perempatan ITN telah teroganisir sebelumnya ataukah tidak, apalagi mereka berasal ari kampung yang sama. Terutama saat mereka tertangkap oleh pihak berwajib, mereka ditebus dengan harga yang terglong tinggi bagi masyarakat tidak mampu seperti mereka. Saat ditanya oleh Endahing mengenai siapa yang menebus mereka saat tertangkap, terlihat bahwa mereka menutupi sesuatu dengan melontarkan jawaban kurang logis.
Tidak selamanya anak jalanan tercerminkan negatif. Agung mengungkapkan bahwa 1,5 bulan yang lalu di pertengahan Januari, dia mengikuti Lomba Cipta Lagu Anak Jalanan yang diadakan salah satu LSM yang bertindak di bidang kekerasan anak, dia memenangkan juara tiga se-Malang Raya. Ini patut diacungi jempol, karena walaupun mereka menjadi anak jalanan, mereka masih bisa berprestasi. Alangkah baiknya, ketika pemerintah menaungi mereka dengan mengasah potensi terpendam anak jalanan, tetapi pemerintah lebih sibuk mengurusi urusan intern yang lebih menguntungkan golongannya sendiri. Karena penulis ingin tahu lebih banyak, maka penulis mengajukan pertanyaan. Siapakah yang membiayai pendaftaran saat lomba itu? Agungpun menjawab bahwa piha RW membiayai pendaftaran kompetisi cipta lagu anak jalanan tersebut. Bila menilik ke pihak pemerintah (Rukun Warga),berarti mereka telah mengetahui bahwa ada warganya yang tidak mampu dan terpaksa menjadi anak jalanan. Jika seperti itu, sebagai ketua RW yang bijak, mengapa anak-anak tersebut tidak dicarikan beasiswa guna melanjutkan pendidikan mereka? Daripada mereka terus mengamen di jalanan yang belum tentu membuat pengguna jalan merasa aman dan nyaman dengan adanya anak jalanan di tengah-tengah perjalanan mereka. Mengapa pihak pemerintah di kampung malah mendukung mereka menjadi anak jalanan dengan cara seperti tadi? Walaupun cara mendukungnya itu tidak transparan atau secara tidak langsung.
Dilema kehidupan tidak hanya dialami oleh anak jalanan atau pengamen, tetapi juga penjual koran. Pada saat observasi dilakukan ada dua penjual koran, seorang pemuda dan pria parobaya. Dua penjual koran tersebut hampir sama nasibnya seperti para pengamen yang ada di perempatan ITN. Mereka sama-sama kesulitan ekonomi, dan harus memenuhi kebutuhan mereka. Mereka bekerja untuk mencari sesuap nasi. Perbedaannya dari cara kerja dan profesi mereka saja. Pengamen dan penjual koran. Bagi sebagian masyarakat, profesi sebagai penjual koran lebih baik daripada pengamen. Padahal menurut penulis sama saja, pengamen menjual suara termasuk dalam bidang seni, sedangkan penjual koran menjual barang dagangan secara fisik. Memang kelihatannya masih lebih beradab penjual koran.
Para penjual koran itu “mangkal” untuk menjajakan barang dagangan sejak pagi sampai sore, menunggu barang dagangannya habis atau tingal sedikit hingga tak membuat mereka rugi banyak. Mereka menjajakan korannya ketika lampu merah menyala di perempatan itu. Peluh membajiri raut wajah coklat tua mereka, menandakan mereka tak menyerah untuk mencari nafkah demi keluarga di rumah, demi anak-anak mereka yang setia menunggu untuk mendapatkan uang jaja, istri mereka yang setia untuk menerima hasil penjualan koran dan api komporpun dapat dinyalakan lagi. Miris ketika penulis mendengar liku hidup mereka yang begitu rumit. Benar-benar perjuangan yang perlu dihargai dan dapat menjadi teladan bagi para akademisi atau kalangan lain.
Seorang pemuda salah satupenjual koran mengaku bahwa ia memiliki seorang ayah yang bekerja sebagai satpam di Universitas Islam Negeri Malang dimana merupakan kampus tempat penulis memuaskan otak dan pemikiran mereka guna menyabet sebuah gelar yang dapat diakui di masyarakat, tak diremehkan seperti anak jalanan dan penjual koran. Pemuda itu berulangkali melamar kerja di UIN Malang sebagai cleaning service, tapi takdir berkata lain hingga keberuntungan belum memihak padanya, berulangkali pula pemuda itu masih belum diterima sebagai cleaning service di universitas yang terkenal dengan motto ulul albabnya ini dan sebutan sebagai bilingual university. Setiap harinya, penjual koran mendapatkan hasil yang pas-pasan bahkan pernah rugi, karena koran yang terjual hanyasedikit sehingga mereka tak dapat balik modal. Tapi mereka tak pernah menyerah. Pernah ada pikiran untuk berubah. Hanya saja belum ada kesempatan bagi mereka, ataukah belum ada pihak yang bersedia untuk mereka dan memberikan perubahan berarti bagi para penjual koran itu. Semua orang pasti memiliki mimpi, hanya kemauan, usaha, dan kesempatan sebagai modal guna mewujudkan mimpi-mimpi tersebut agar menjadi kenyataan.
Setelah mengetahui sebagian hidup para pengamen dan penjual koran, beralih pada para pengguna jalan. Karena, pengguna jalan masih kesatuan dalam hubungan antara pengamen dan penjual koran. Apabila tidak ada pengguna jalan, maka pengamen dan penjual koran tidak dapat bertransaksi satu sama lain. Pengamen tidak akan bisa menjual suaranya dan mendapat upah dari pengguna jalan, dan penjual koran tak dapat menjual koran dan mendapatkan pembeli jika tak ada pengguna jalan. Pengguna jalan merupakan komoditas atau sasaran utama para pengamen dan penjual koran, karena pengguna jalan merupakan ladang mencari rejeki bagi pengamen dan penjual koran.
Secara empiris, memang demikian adanya. Pengguna jalan, penjual koran, dan pengamen adalah suatu ikatan atom yang tak dapat dipisahkan lagi, mereka memiliki hubungan emosional dan keterkaitan satu sama lain. Jika diibaratkan seperti suami istri, maka mereka ialah pasangan sejati. Ketiganya dapat memunculkan simbiosis mutualisme. Tapi, apakah simbiosis mutualisme itu selamanya ada diantara ketiganya? Bagaimana jika salah satu darinya merasa tidak nyaman, mungkin pertanyaan itu lebih cocok ditujukan bagi para pengguna jalan.
Perempatan ITN merupakan tempat strategis, jalannya selalu ramai dipenuhi kendaraan bermotor yang berlalu lalang dari pagi hingga pagi lagi. Di perempatan ITN tersebut dekat dengan berbagai pusat pendidikan, perbelanjaan, dan lain-lain yang tak akan pernah lengang oleh kendaraan bermotor. Pengguna jalan akan selalu lewat perempatan itu. Suasana perempatan itu juga enak dipandang, sehingga membuat para pengguna jalan merasa nyaman apabila melewati jalanan tersebut. Tapi, beberapa pengguna jalan merasa tidak nyaman atau terganggu ketika perempatan tersebut dijadikan sebagai tempat pengamen untuk mengamen, dan penjual koran. Mereka merasa terganggu saat lampu merah menyala sebagai tanda berhenti bagi pengguna jalan untuk bergantian memakai perempata, pada saat itulah pengamen mulai beraksi. Para pengamen menyanyikan lagu-lagu populer yang tak asing didengar lalu meminta bayaran, padahal pengguna jalan tersebut tidak meminta pengamen menghampirinya lalu menyanyi di depan dan meminta upah atas nyanyian pengamen. Tak jarang para pengamen merasa tidak tega dan akhirnya terpaksa memberi pengamen upah walaupun uang receh. Seperti yang diungkapkan Wahyu, mahasiswa jurusan Teknologi Pangan Universitas Brawijaya (UB) Malang semester 8 yang berdomisili di jalan Bandung, salah satu pengguna jalan di perempatan ITN mengaku bahwa merasa terganggu karena bisa saja para pengamen itu mencopet atau melakukan tindak kriminal terhadap dirinya, apalagi ia menggunakan sepeda motor yang rentan akan tindak kriminal. Wahyu ragu akan mengeluarkan dompetnya untuk memberi uang receh pada pengamen karena dengan alasan yang tadi, selain itu dengan adanya pengamen dan anak jalanan lainnya merusak pemandangan daerah tersebut sehingga tidak sedap dipandang mata. Lain lagi dengan pendapat Uswatun Hasanah, salah satu mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 2 di Universitas Islam Negeri Malang. Dia mengungkapkan bahwa dia merasa biasa saja dengan adanya para pengamen dan penjual koran. Dia tidak merasa terganggu apabila mereka tidak mengancam keamanan dan kenyamanan dirinya, namun dia pernah merasa terganggu apabila saat ada pengamen dia tidak memiliki uang kecil untuk diberikan pada pengamen itu. Uswatun merasa akan dianggap pelit oleh pengamen tersebut, apalagi dia berjilbab dimana merupakan cerminan agamanya. Sama halnya dengan Nailul Amani Al-Misriyah yang akrab dipanggil Nelly, mahasiswi semester 2 jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Islam Negeri Malang, dia juga mengungkapkan bahwa dia akan merasa terganggu dengan adanya para pengamen jika dia tak punya uang receh untuk diberikan pada pengamen tersebut.
Pada intinya, pengguna jalan tidak akan merasa terganggu akan kehadiran para pengamen jika tak mengancam keamanan dan kenyamanan diri mereka, dan mereka mampu memberikan uang receh sebagai bentuk upah atas nyanyian para pengamen.
Hari semakin sore, jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Kesibukan di perempatan ITN itu tetaplah ramai bahkan semaki memenuhi jalan, karena saat itu jam pulang kerja atau orang mengunjungi mall dekat perempatan itu yaitu Malang Town Square (MATOS). Akhirnya para penulis memutuskan kembali ke aktivitas mereka seperti biasa. Endahing meminta Agung, salah satu pengamen untk menyanyikan salah satu lagu yang biasa dimainkan saat mengamen. Sebagian lirik menarik Endahing, yaitu di reff-nya.”....ataukah sistemnya yang salah? Ini salah siapa?”, lagu itu berjudul Ini Salah Siapa?, lagu itu didapat dari selebaran-selebaran lagu baru bagi para pengamen. Selebaran itu disebarkan dari pengamen satu ke pengamen lain. Mereka belajar not lagu juga dari teman pengamen yang lain. Dari secuil lirik lagu tersebut semoga menjadi cambuk bagi pemerintah untuk terus memperbaiki sistem yang berlaku di negara ini, tanpa ada penyelewengan hukum lagi. Semua butuh waktu dan proses, serta bantuan dari semua pihak Anak jalanan, pengamen, penjual koran, bahkan para pengguna jalan terus menanti matahari kesejahteraan terbit.

Tidak ada komentar: